Menepis Pudar Melukiskan Sinar
Muhammad Rafid Nadhif R
Membaca ibaratkan sebuah jalan untuk
menuju suatu kemenangan. Jalan yang menuntun pembacanya untuk membuka luasnya
cakrawala, melihat dengan berbagai perspektif yang berbeda.
Seperti layaknya emas, membaca sangat berharga dan
bernilai tinggi. Namun sayang, kendati membaca lebih berharga daripada emas,
banyak orang menganggap membaca sebelah mata. Rasa malas acapkali menguasai
diri tatkala panggilan jiwa memaksa untuk membaca sebuah tulisan. Dan atas
dasar pemikiran membaca tidak berharga itulah, mengantarkan Indonesia menjadi
peringkat ke-61 dari 61 negara dalam
minat membaca dalam studi Most Littered Nation in The World 2016 lalu.
Peringkat Indonesia nyaris bertengger di posisi
terakhir. Indonesia berada di posisi kedua terbawah, diapit oleh Thailand di
atasnya dan Bostwana di bawahnya. Sangat prihatin memang. Tapi, mau dikatakan
apa lagi. Memang benar pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih enggan
untuk membaca.
Walaupun Indonesia sudah terperosok
pada jurang keengganan membaca, masih banyak harapan untuk meroket lalu
menggaet peringkat teratas dalam minat membaca. Satu-satunya cara ialah
membenahi pemikiran dan perilaku masyarakat Indonesia dalam dunia literasi. Harus
ditanamkan budaya baca dalam setiap individu. Untuk mewujudkan hal itu, bisa
dimulai dari membudayakan membaca di kalangan pelajar. Dalam hal ini,
pemerintah sudah menjelaskan sedari lama pada Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional no 20/ 2003 pasal 4 ayat 5, bahwa pendidikan diselenggarakan dengan
mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, dewasa ini
pemerintah sedang giat menggalakan budaya gemar membaca untuk para pelajar.
Dibuktikan dengan adanya program 15 menit membaca buku non-pelajaran sebelum
belajar.
Sekolah dasar, menjadi tingkatan
sekolah yang paling diharapkan. Karen ajika ditanamkan sejak dini, akan terus
lama tertanam. Seperti dalam berpikir, usia muda sangat mudah menjejalkan
materi-materi akademik daripada di usia senja. Maka dari itu, perlunya
menumbuhkan budaya membaca yang giat di sekolah dasar.
Agar budaya baca itu bisa tumbuh di
sekolah dasar, maka dibutuhkan beberapa program yang mendukung. Diantaranya
adalah,
1. Membaca Buku yang Disukai
Pada dasarnya, anak-anak cenderung memiliki rasa mudah
bosan. Anak-anak menyukai apa yang ia sukai dan hanya ingin melakukan apa yang
ia inginkan. Jadi, siswa sekolah dasar diajak untuk membaca buku yang disukai.
Seperti misalnya, terdapat tiga anak bernama A, B, dan C. A sangat menyukai
boneka, B menyukai sepak bola, dan C menyukai
memasak. Lalu, A, B, dan C digiring untuk membaca buku tentang bonka
untuk si A, sepak bola untuk si B, dan buku berbau masakan untuk si C. Dengan
begitu, anak-anak terasa nyaman dan menikmati dalam membaca.
2. Membaca Buku Fiksi yang Berkaitan dengan Materi
Untuk menumbuhkan minat membaca, selain dengan membaca
buku tentang bidang kesukaan masing-masing mungkin bisa dengan cara
menyempatkan waktu membaca bacaan fiksi tentang materi pelajaran. Tentu ceritanya
harus yang mengasyikkan. Contoh dalam program ini, seorang guru sedang
mengajarkan materi pecahan matematika. Sebelum menginjak materi tersebut,
diadakan terlebih dahulu membaca bersama buku fiksi tentang materi pecahan
tersebut (misalnya cerita tentang perjalanan pizza yang dipecah menjadi
beberapa bagian lalu dibagi ke beberapa orang). Sistemnya adalah duduk
melingkar di lantai atau duduk seperti biasa di kursi masing-masing. Atau jika
memang bahan bacaan fiksi tentang materi tersebut tidak ada, sebelum menginjak
materi yang akan diajarkan, guru tersebut harus menyuruh anak-anak membaca
sebuah buku dan jika telah selesai, guru tesebut meminta kepada anak-anak untuk
menyangkutpautkan cerita yang telah dibaca tentang materi yang hendak
diajarkan. Jadi, misalnya seorang guru akan mengajarkan tentang sistem rangka.
Para siswa diminta untuk membaca buku apapun. Sebut saja Z membaca buku tentang
dongeng kancil. Guru tersebut harus menjelaskan, dari buku tersebut
disangkutpautkan dengan rangka. Misalnya guru tersebut mengatakan bahwa jika
tidaka da rangka, tokoh kancil dalam dongeng itu takkan bisa menjadi ini, tak
bsia melakukan itu.
3. Menciptakan Sudut Bacaan
Program lainnya yang mungkin bisa mengoptimalisasikan
tumbuhnya budaya baca di sekolah dasar adalah membuat sudut baca di gedung
sekolah. Jadi dibuatlah tempat untuk menyimpan buku-buku menarik di tempat yang
strategis. Di kantin misalnya, sediakan buku-buku di sana. Atau di kelas-kelas
harus disediakan berbagai jenis bacaan. Sehingga, jika dilewati terus-menerus
oleh siswa, bisa membuat siswa ikut tertarik untuk membacanya.
4. Membuat Mading Kelas
Berangkat dari kegemaran anak-anak yang langsung suka
dengan yang berbau menarik, maka membuat mading bisa menjadi alternatif juga
untuk menggugah budaya baca untuk ukuran anak SD. Kronologis lebih lanjut,
dalam setiap kelas dibuatkan mading di tembok yang kosong. Tentunya, tidak lain
dan tidak bukan mading harus menarik. Beragam warna serta hiasan harus
menghiasi mading tersebut. Setelah tersedia mading di masing-masing kelas,
setiap siswa harus mengisi mading itu dengan artikel-artikel yang bisa didapat
dari internet, majalah, atau pun koran. Selain artikel, bisa juga diisi dengan
cerita pendek dan puisi. Siswa yang mengisi mading itu sesuai jadwal piket. Mading
ini bisa diganti seminggu sekali atau tergantung keputusan gurunya. Misalnya,
siswa-siswi yang piket pada hari Senin wajib mencari bahan mading pada minggu
ini, lalu piket Selasa minggu depan, begitu seterusnya. Satu siswa minimal
mencari satu bahan mading, maksimal banyak. Dengan program ini, pembuat mading
otomatis membaca terlebih dahulu isi mading yang ia cari. Selain itu, siswa-siswi pun bisa
tertarik membaca mading tersebut. Walaupun isi mading itu sedikit, tapi
setidaknya siswa-siswi telah melakukan kegiatan membaca. Dan bila rutin diganti
dalam waktu yang ditentukan, akan menciptakan “candu” bagi si pembaca.
5. Satu Bintang Satu Buku
Terakhir, menumbuhkan budaya baca di lingkunan SD bisa
dioptimalisasikan dengan membuat program SBSB. SBSB merupakan singkatan dari
Satu Bintang Satu Buku. Artinya, jika sudah membaca buku siswa tersebut akan
mendapatkan satu bintang. Bintang-bintang itu harus dikumpulkan
sebanyak-banyaknya. Yang mendapatkan bintang terbanyak hingga akhir tahun akan
mendapatkan reward. Rewardnya disesuaikan keadaan sekolah. Sejatinya, apapun
bisa dijadikan reward. Tidak terbatas oleh hadiah-hadiah unik nan cantik yang
mahal saja.
Itulah kelima cara yang bisa menumbuhkan minat baca di
sekolah dasar. Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju roma. Sebenarnya
masih banyak pula jalan-jalan lainnya untuk mewujudkan tumbuhnya minat baca di
kalangan siswa sekoalh dasar. Semuanya sama saja, asalkan semua program itu
harus konsisten berjalan. Tidak sebentar setelah diluncurkan heboh dan gencar
dilaksanakan, tapi setelahnya tidak dijalankan. Kalau tidak konsisten
program-program menumbuhkan budaya baca itu dilaksanakan, bagaimana bisa para
pelajar Indonesia jadi jatuh cinta dengan buku?
Kunci awal untuk mau membaca adalah kemauan. Apabila tidak
didasari kemauan, pasti akan sulit untuk memabca beberapa untaian kalimat.
Untuk mendapatkan kemauan, bisa didapati dengan berbagai cara contohnya seperti
lima hal yang diuraikan sebelumnya.
Intinya, siswa sekolah dasar memang harus
diperkenalkan dan harus ditumbuhkan minat baca agar masyarakat Indonesia tidak
lagi berada di peringkat kedua terbawah dalam hal minat baca.
Usaha dari guru, kepala sekolah, dan pemerintah harus
nyala sneyala-nyalanya bak kobaran hebat api supaya program-program menumbuhkan
budaya baca di sekolah dasar bisa terlaksana. Setelah terlaksana baik, bisa
dipastikan satu per satu siswa-siswi pelajar sekolah dasar akan mencintai buku.
Bahkan bisa jadi, di masa yang akan datang, buku bukan lagi sebagai penghibur
tapi sebagai kebutuhan.
Untuk siswa-siswi kelas 1-3, pembiasaan membaca bisa
dimulai dari membaca buku yang memiliki banyak warna dan gambar. Karen ajika
terdapat banyak sekali gambar, akan menimbulkan kebahagiaan bagi anak berusia
kelas 1-3. Buku berbubuhkan banyak gambar pun membuat mereka tidak tenggelam
dalam kebosanan.
Sedangkan untuk siswa-siswi kelas4-6, tidak bergambar
juga tidak apa-apa. Namun memang, jika masih ada yang sangat benci dengan
membaca buku tidak bergambar, bisa ditawari dengan membaca buku bergambar.
Memang pada kenyataannya, anak-anak lebih suka membaca buku yang bergambar.
Agar Indonesia bisa menggapai urutan pertama dalam
minat membaca, giat menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar adalah salah satu
caranya. Karena benar, siswa sekoalh dasar adalah genarasi muda Indonesia. Jika
generasi muda-nya saja sudah tidak suka memabaca, apalagi nanti?
Masih ada secercah harapan untuk bangkit dari
keterpurukan. Membaca sebenarnya sangat berharga. Membaca bagai raja siang. Ia
acapkali memancarkan sinar di singgasananya. Ya, membaca memang sesuatu yang
bersinar. Sesuatu yang ajaib, karena bisa membuka mata kita, membuka wawasan
dan pengetahuan kita. Namun sayang, membaca kini dianggap buruk. Dianggap
pudar, padahal bersinar.
Tunggu apa lagi? Tepis pudar, lukiskan sinar.
Tunjukkan bahwa membaca adalah benar-bener berharga ; benar-benar memiliki
sinar yang sejatinya sinar itu benar-benar bersinar, bukan pudar.
Bila pelajar sekolah dasar di Indonesia telah
menanamkan erat budaya baca, maka tidak ada kata mustahil untuk Indonesia
meraih urutan pertama dalam hal minat membaca.
Bandung, 15 Oktober 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar