Senin, 20 November 2017

Menepis Pudar, Melukiskan Sinar

Menepis Pudar Melukiskan Sinar
Muhammad Rafid Nadhif R
            Membaca ibaratkan sebuah jalan untuk menuju suatu kemenangan. Jalan yang menuntun pembacanya untuk membuka luasnya cakrawala, melihat dengan berbagai perspektif yang berbeda.
Seperti layaknya emas, membaca sangat berharga dan bernilai tinggi. Namun sayang, kendati membaca lebih berharga daripada emas, banyak orang menganggap membaca sebelah mata. Rasa malas acapkali menguasai diri tatkala panggilan jiwa memaksa untuk membaca sebuah tulisan. Dan atas dasar pemikiran membaca tidak berharga itulah, mengantarkan Indonesia menjadi peringkat ke-61 dari 61 negara  dalam minat membaca dalam studi Most Littered Nation in The World 2016 lalu.
Peringkat Indonesia nyaris bertengger di posisi terakhir. Indonesia berada di posisi kedua terbawah, diapit oleh Thailand di atasnya dan Bostwana di bawahnya. Sangat prihatin memang. Tapi, mau dikatakan apa lagi. Memang benar pada kenyataannya, masyarakat Indonesia masih enggan untuk membaca.
            Walaupun Indonesia sudah terperosok pada jurang keengganan membaca, masih banyak harapan untuk meroket lalu menggaet peringkat teratas dalam minat membaca. Satu-satunya cara ialah membenahi pemikiran dan perilaku masyarakat Indonesia dalam dunia literasi. Harus ditanamkan budaya baca dalam setiap individu. Untuk mewujudkan hal itu, bisa dimulai dari membudayakan membaca di kalangan pelajar. Dalam hal ini, pemerintah sudah menjelaskan sedari lama pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional no 20/ 2003 pasal 4 ayat 5, bahwa pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan, dewasa ini pemerintah sedang giat menggalakan budaya gemar membaca untuk para pelajar. Dibuktikan dengan adanya program 15 menit membaca buku non-pelajaran sebelum belajar.
            Sekolah dasar, menjadi tingkatan sekolah yang paling diharapkan. Karen ajika ditanamkan sejak dini, akan terus lama tertanam. Seperti dalam berpikir, usia muda sangat mudah menjejalkan materi-materi akademik daripada di usia senja. Maka dari itu, perlunya menumbuhkan budaya membaca yang giat di sekolah dasar.
            Agar budaya baca itu bisa tumbuh di sekolah dasar, maka dibutuhkan beberapa program yang mendukung. Diantaranya adalah,
1. Membaca Buku yang Disukai
Pada dasarnya, anak-anak cenderung memiliki rasa mudah bosan. Anak-anak menyukai apa yang ia sukai dan hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan. Jadi, siswa sekolah dasar diajak untuk membaca buku yang disukai. Seperti misalnya, terdapat tiga anak bernama A, B, dan C. A sangat menyukai boneka, B menyukai sepak bola, dan C menyukai  memasak. Lalu, A, B, dan C digiring untuk membaca buku tentang bonka untuk si A, sepak bola untuk si B, dan buku berbau masakan untuk si C. Dengan begitu, anak-anak terasa nyaman dan menikmati dalam membaca.
2. Membaca Buku Fiksi yang Berkaitan dengan Materi
Untuk menumbuhkan minat membaca, selain dengan membaca buku tentang bidang kesukaan masing-masing mungkin bisa dengan cara menyempatkan waktu membaca bacaan fiksi tentang materi pelajaran. Tentu ceritanya harus yang mengasyikkan. Contoh dalam program ini, seorang guru sedang mengajarkan materi pecahan matematika. Sebelum menginjak materi tersebut, diadakan terlebih dahulu membaca bersama buku fiksi tentang materi pecahan tersebut (misalnya cerita tentang perjalanan pizza yang dipecah menjadi beberapa bagian lalu dibagi ke beberapa orang). Sistemnya adalah duduk melingkar di lantai atau duduk seperti biasa di kursi masing-masing. Atau jika memang bahan bacaan fiksi tentang materi tersebut tidak ada, sebelum menginjak materi yang akan diajarkan, guru tersebut harus menyuruh anak-anak membaca sebuah buku dan jika telah selesai, guru tesebut meminta kepada anak-anak untuk menyangkutpautkan cerita yang telah dibaca tentang materi yang hendak diajarkan. Jadi, misalnya seorang guru akan mengajarkan tentang sistem rangka. Para siswa diminta untuk membaca buku apapun. Sebut saja Z membaca buku tentang dongeng kancil. Guru tersebut harus menjelaskan, dari buku tersebut disangkutpautkan dengan rangka. Misalnya guru tersebut mengatakan bahwa jika tidaka da rangka, tokoh kancil dalam dongeng itu takkan bisa menjadi ini, tak bsia melakukan itu.
3. Menciptakan Sudut Bacaan
Program lainnya yang mungkin bisa mengoptimalisasikan tumbuhnya budaya baca di sekolah dasar adalah membuat sudut baca di gedung sekolah. Jadi dibuatlah tempat untuk menyimpan buku-buku menarik di tempat yang strategis. Di kantin misalnya, sediakan buku-buku di sana. Atau di kelas-kelas harus disediakan berbagai jenis bacaan. Sehingga, jika dilewati terus-menerus oleh siswa, bisa membuat siswa ikut tertarik untuk membacanya.
4. Membuat Mading Kelas
Berangkat dari kegemaran anak-anak yang langsung suka dengan yang berbau menarik, maka membuat mading bisa menjadi alternatif juga untuk menggugah budaya baca untuk ukuran anak SD. Kronologis lebih lanjut, dalam setiap kelas dibuatkan mading di tembok yang kosong. Tentunya, tidak lain dan tidak bukan mading harus menarik. Beragam warna serta hiasan harus menghiasi mading tersebut. Setelah tersedia mading di masing-masing kelas, setiap siswa harus mengisi mading itu dengan artikel-artikel yang bisa didapat dari internet, majalah, atau pun koran. Selain artikel, bisa juga diisi dengan cerita pendek dan puisi. Siswa yang mengisi mading itu sesuai jadwal piket. Mading ini bisa diganti seminggu sekali atau tergantung keputusan gurunya. Misalnya, siswa-siswi yang piket pada hari Senin wajib mencari bahan mading pada minggu ini, lalu piket Selasa minggu depan, begitu seterusnya. Satu siswa minimal mencari satu bahan mading, maksimal banyak. Dengan program ini, pembuat mading otomatis membaca terlebih dahulu isi mading yang  ia cari. Selain itu, siswa-siswi pun bisa tertarik membaca mading tersebut. Walaupun isi mading itu sedikit, tapi setidaknya siswa-siswi telah melakukan kegiatan membaca. Dan bila rutin diganti dalam waktu yang ditentukan, akan menciptakan “candu” bagi si pembaca.
5. Satu Bintang Satu Buku
Terakhir, menumbuhkan budaya baca di lingkunan SD bisa dioptimalisasikan dengan membuat program SBSB. SBSB merupakan singkatan dari Satu Bintang Satu Buku. Artinya, jika sudah membaca buku siswa tersebut akan mendapatkan satu bintang. Bintang-bintang itu harus dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Yang mendapatkan bintang terbanyak hingga akhir tahun akan mendapatkan reward. Rewardnya disesuaikan keadaan sekolah. Sejatinya, apapun bisa dijadikan reward. Tidak terbatas oleh hadiah-hadiah unik nan cantik yang mahal saja.
Itulah kelima cara yang bisa menumbuhkan minat baca di sekolah dasar. Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju roma. Sebenarnya masih banyak pula jalan-jalan lainnya untuk mewujudkan tumbuhnya minat baca di kalangan siswa sekoalh dasar. Semuanya sama saja, asalkan semua program itu harus konsisten berjalan. Tidak sebentar setelah diluncurkan heboh dan gencar dilaksanakan, tapi setelahnya tidak dijalankan. Kalau tidak konsisten program-program menumbuhkan budaya baca itu dilaksanakan, bagaimana bisa para pelajar Indonesia jadi jatuh cinta dengan buku?
Kunci awal untuk mau membaca adalah kemauan. Apabila tidak didasari kemauan, pasti akan sulit untuk memabca beberapa untaian kalimat. Untuk mendapatkan kemauan, bisa didapati dengan berbagai cara contohnya seperti lima hal yang diuraikan sebelumnya.
Intinya, siswa sekolah dasar memang harus diperkenalkan dan harus ditumbuhkan minat baca agar masyarakat Indonesia tidak lagi berada di peringkat kedua terbawah dalam hal minat baca.
Usaha dari guru, kepala sekolah, dan pemerintah harus nyala sneyala-nyalanya bak kobaran hebat api supaya program-program menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar bisa terlaksana. Setelah terlaksana baik, bisa dipastikan satu per satu siswa-siswi pelajar sekolah dasar akan mencintai buku. Bahkan bisa jadi, di masa yang akan datang, buku bukan lagi sebagai penghibur tapi sebagai kebutuhan.
Untuk siswa-siswi kelas 1-3, pembiasaan membaca bisa dimulai dari membaca buku yang memiliki banyak warna dan gambar. Karen ajika terdapat banyak sekali gambar, akan menimbulkan kebahagiaan bagi anak berusia kelas 1-3. Buku berbubuhkan banyak gambar pun membuat mereka tidak tenggelam dalam kebosanan.
Sedangkan untuk siswa-siswi kelas4-6, tidak bergambar juga tidak apa-apa. Namun memang, jika masih ada yang sangat benci dengan membaca buku tidak bergambar, bisa ditawari dengan membaca buku bergambar. Memang pada kenyataannya, anak-anak lebih suka membaca buku yang bergambar.
Agar Indonesia bisa menggapai urutan pertama dalam minat membaca, giat menumbuhkan budaya baca di sekolah dasar adalah salah satu caranya. Karena benar, siswa sekoalh dasar adalah genarasi muda Indonesia. Jika generasi muda-nya saja sudah tidak suka memabaca, apalagi nanti?
Masih ada secercah harapan untuk bangkit dari keterpurukan. Membaca sebenarnya sangat berharga. Membaca bagai raja siang. Ia acapkali memancarkan sinar di singgasananya. Ya, membaca memang sesuatu yang bersinar. Sesuatu yang ajaib, karena bisa membuka mata kita, membuka wawasan dan pengetahuan kita. Namun sayang, membaca kini dianggap buruk. Dianggap pudar, padahal bersinar.
Tunggu apa lagi? Tepis pudar, lukiskan sinar. Tunjukkan bahwa membaca adalah benar-bener berharga ; benar-benar memiliki sinar yang sejatinya sinar itu benar-benar bersinar, bukan pudar.
Bila pelajar sekolah dasar di Indonesia telah menanamkan erat budaya baca, maka tidak ada kata mustahil untuk Indonesia meraih urutan pertama dalam hal minat membaca.
Bandung, 15 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar